Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juli 2016

Pantai Pandan, Sibolga

Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36


Pantai Pandan, Sibolga
Pantai Pandan, Sibolga

Pernahkah Anda mendengar nama Pantai Pandan ? Tentunya bagi masyarakat Sumatera Utara, khususnya masyarakat kota Sibolga nama pantai ini sudah tidak asing. Sebab Pantai Pandan ini merupakan pantai yang sangat populer di kota Sibolga selain Pantai Indah Kalangan.



Pantai Pandan adalah salah satu pantai yang paling popular di Sibolga. Sibolga sendiri adalah nama sebuah kota kecil yang terletak di pesisir Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Sibolga cukup terkenal dengan wisata baharinya. Pantai Pandan terletak di pesisir Sibolga, selalu ramai di kunjungi baik hari biasa maupun hari libur. Pantai ini di kelola oleh pemerintah setempat.

Ketika berada di pantai ini, sejauh mata memandang yang akan terlihat hanyalah perairan yang membentang di laut lepas. Di sebelah kanannya terdapat sebuah bukit yang cukup tinggi yang merupakan daratan wilayah Sibolga. Di Pantai Pandan ini air lautnya berwarna hijau kebiru-biruan dan cukup jernih. Airnya tenang, bahkan tanpa ombak. Jadi, Anda bisa dengan bebasa berenang sejauh beberapa meter dari mulut pantai dengan aman. Pasir di Pantai Pandan berwarna putih dan sangat lembut. Di sekitar pantai juga sangat bersih, sehingga sekalipin Anda berkeliling pantai Anda tidak akan menemukan sampah-sampah yang berserakan.
Pantai Pandan, Sibolga
Pantai Pandan, Sibolga
Pasir putihnya yang membentang di sekitar pesisir pantai, menambah keindahan pantai ini. Pasir putih di pantai ini benar-benar sangat bersih dan sama sekali tidak terdapat sampah-sampah yang berserakan, sehingga apabila Anda ingin mengitari kawasan pantai ini akan terasa sangat nyaman sekali karena pasir-pasir tersebut sangat halus.

Anda dapat menelusuri kawasan pantai ini dari timur ke barat, sembari melihat panorama alam yang membentang di depan mata Anda. Pantai Pandan ini terbilang sangat luas, sehingga mungkin Anda membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menelusuri pantai ini. Namun, panorama alam yang terdapat di sekitar kawasan pantai ini membuat Anda tidak akan bosan-bosannya terus menelusuri kawasan pantai ini. Sesekali juga terlihat beberapa orang yang tergabung ke dalam komunitas sepeda, mengayuh sepeda mereka untuk menelusuri kawasan pantai ini.

Ratusan pepohonan rindang pun tumbuh di sekitar pantai ini yang memberikan kesan kesejukan bagi wisatawan. Nah, tepat di bawah pepohonan rindang inilah terdapat beberapa gazebo dan tikar-tikar yang berfungsi sebagai tempat beristirahat selama di pantai ini. Gazebo dan tikar-tikar tersebut merupakan sebuah fasilitas yang dapat Anda sewakan.

Jika Anda berminat untuk berwisata ke Pantai Pandan,
Anda dapat menempuh perjalanan dari kota Sibolga dengan menggunakan transportasi umum yang terdapat di kota Sibolga. Hanya membayar ongkos Rp. 3000,- per orang Anda sudah sampai di pantai ini.
Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36

Pantai Berawe

Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36


Pantai Berawe
Pantai Berawe


Pantai Berawe terletak di Pulau Kampai Kecamatan Pangkalan Susu. Hamparan pasir putih yang menghadap ke Selat malaka ini cukup indah dan nyaman untuk kegiatan wisata bahari. Jilatan ombak laut yang seperti tak pernah letih menggapai bibir pantai disertai desauan semilir angin membuat suasana pantai ini begitu memukau dan mempesona.Objek wisata ini berjarak +- 96 Km dari Medan atau sekitar 53 Km dari Stabat ibukota Kabupaten Langkat. Pengujung dapat melalui perjalanan dengan menggunakan bus umum jurusan Medan – Pangkalan Susu dari terminal Pinang Baris, mereka dapat melanjutkan perjalanan dengan menyewa boat menuju pantai tersebut.

Waktu tempuh dari pelabuhan Pangkalan Susu menuju lokasi +- 45 menit. Selanjutnya anda dapat menikmati keindahan pantai ini sepuasnya.

Diasmping Pantai Berawe pulau ini dikenal sebagai penghasil terasi (belacan) berkualitas tinggi yang sangat terkenal di Sumatera Utara. Terasi (belacan) ini merupakan produk industry rumah tangga (home Industry) masyarakat setempat.
Para pengunjung pulau Kampai juga tidak akan pulang dengan tangan kosong. Mereka dapat membeli souvenir berupa barang kerajinan tangan yang terbuat dari kerang laut.
Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36

Merdeka Walk Medan

Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36


Merdeka Walk Medan
Merdeka Walk Medan
Merdeka Walk digagas pada zaman Abdillah sebagai Walikota Medan dan diresmikan pada 14 April 2005. Lokasinya mengambil areal bekas tempat parkir yang berada di Lapangan Merdeka yang ada di sisi Jalan Balai Kota disulap jadi tempat kuliner.

Posisinya berada di bawah rindangnya pohon-pohon trembesi berusia ratusan tahun yang ditanam sejak zaman Belanda. Jadi, siang hari panas tidak menyengat karena tertahan rindangnya pohon, sementara malam hari lampu hias beragam model dilekatkan di dahan dan batang pohon.


Areal seluas 6.600 meter persegi itu kini menyediakan setidaknya 700 kursi. Pengunjung bisa memesan makanan dari sekitar 30 dan outlet makanan penjual yang ada. Begitu menu diantar, langsung bayar.

Dari sisi harga, sajian di Merdeka Walk tak bisa dibilang murah. Bisa dikatakan menengah ke atas. Harga yang standar seperti di luaran hanyalah di restoran fast food.

"Kalau untuk saya, harga di sini ya mahal, karena sudah tahu tempat penjual makanan sejenis yang lebih murah dengan kualitas dan rasa yang sama enak. Namun di sini, kita membeli suasana. Nyaman dan bersih. Selain itu, bisa mencoba beragam menu," kata Putra P Lubis, seorang warga Deli Serdang yang singgah di Merdeka Walk dalam obrolan dengan detikTravel, Rabu (3/7/2013) malam.
Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36

Jadi Rujukan Turis Eropa untuk Nostalgia (Tip Top Restaurant Medan)

Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36


Jadi Rujukan Turis Eropa untuk Nostalgia (Tip Top Restaurant Medan)
Add captionTip Top Restaurant Medan
Sumatera Utara, memiliki banyak tempat wisata bersejarah. Salah satunya Tip Top Restaurant and Lunch Room, restoran bernuansa jadul (jaman dulu) di kawasan pecinan Kesawan. Restoran yang berdiri sejak 1934 itu mampu menjaga orisinalitas bangunan maupun menu masakannya.
GUNAWAN SUTANTO, Medan


LIVE music dengan lagu-lagu nostalgia menyambut para pengunjung yang datang ke Tip Top Restaurant and Lunch Room siang itu. Foto-foto hitam putih yang menghiasi dinding-dindingnya semakin menegaskan bahwa Tip Top adalah rumah makan yang berusaha mempertahankan nilai-nilai kesejarahannya. Tampak di antaranya foto tentara sekutu yang sedang berbaris dengan latar belakang bangunan restoran di Jalan Kesawan (kini Jalan Ahmad Yani) tersebut. Konon, foto itu dijepret pada 1947.

“Bangunan ini masih orisinal semuanya. Hampir tidak ada yang berubah meskipun pernah direnovasi beberapa kali,” ujar Dridikus Kelana, generasi ketiga pemilik Tip Top, ketika ditemui Jawa Pos (Induk JPNN) Sabtu siang (18/1).

Dridikus lalu mengajak koran ini menikmati cuilan-cuilan sejarah Medan masa lalu yang berkaitan dengan restoran tua itu. Wisata sejarah tersebut dimulai dari foto-foto kuno yang dipajang sebagai hiasan interior restoran.

“Coba lihat foto ini dan bedakan dengan yang sekarang. Nyaris tidak ada yang berubah, bukan?”kata Dridikus sambil menunjuk foto bangunan Tip Top pada 1940-an dan objek yang sama yang difoto pada era sekarang.

Ada juga foto suasana kawasan Kesawan pada era penjajahan Belanda yang terkenal sebagai pusat perniagaan. Menurut Dridikus, pada awal pendiriannya, Tip Top tidak dimaksudkan untuk rumah makan. Tapi berbentuk toko roti dengan nama Jang Kie di Jalan Pandu, Medan.

“Nama toko roti itu diambil dari nama kakek buyut saya, Jang Kie,” terang Dridikus sembari menunjukkan foto perintis restorannya tersebut.

Baru pada 1934 Jang Kie memutuskan untuk memindahkan toko rotinya ke kawasan Kesawan, tak jauh dari Jalan Pandu. Penyebabnya, Kesawan adalah pusat perniagaan di Medan yang ramai kala itu. Kongsi-kongsi dagang Belanda dan Tionghoa banyak bermarkas di kawasan yang mirip dengan Kembang Jepun di Surabaya tersebut.

Saat pindah ke Jalan Kesawan itulah, Jang Kie mengubah nama toko rotinya menjadi Tip Top. Pengubahan nama tersebut dimaksudkan untuk menyasar pasar yang lebih luas. Bukan hanya warga Tionghoa, melainkan juga menir-menir Belanda. Dalam bahasa Belanda, tiptop berarti sesuatu yang sempurna.

Menu-menu di restoran itu memang menunjukkan bagaimana Jang Kie berupaya memikat selera makan orang-orang Belanda. Misalnya beefsteak, bitterballen, kue markoop,  speculaas, saucijs brood, horen, dan aneka jenis es krim berbahasa Belanda. “Ini whipped cream yang kami buat sendiri, tidak menggunakan whipped cream spray seperti yang dijual di toko-toko,” ujar pria 44 tahun itu.

Dridikus kemudian mengajak Jawa Pos ke dapur. Di tempat masak tersebut terdapat alat pembuat whipped cream, namanya slagroom. Alat bikinan Belanda itu berusia lebih tua daripada keberadaan Tip Top. “Kami sempat risau karena sulit sekali mencari alat ini untuk cadangan. Saya sudah keliling Indonesia, bahkan ke luar negeri, tapi tidak menemukan alat yang sama,” paparnya.

Tip Top membutuhkan alat cadangan itu sebagai antisipasi jika alat yang lama rusak. Sampai sekarang slagroom cadangan dengan bentuk yang sama belum ditemukan Dridikus dan karyawannya. Pernah alat tersebut bermasalah karena komponennya rusak. Untung, teman
Dridikus mampu membetulkan untuk membuat komponen yang sama. “Untung, alat buatan sendiri itu cocok sehingga berfungsi kembali,” ungkapnya.

Pemilihan sejarah sebagai diferensiasi restoran tersebut rupanya tak salah. Selama ini, terang Dridikus, tamu yang datang ke restorannya kebanyakan ingin bernostalgia. Meski begitu, banyak juga generasi sekarang yang menjadi pelanggan rumah makan jadul tersebut. “Banyak pula turis asing yang mampir. Kebanyakan sudah tua-tua,” ujar lulusan Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan Bandung itu.

Dridikus bercerita, pernah suatu ketika datang sejumlah wisatawan dari Belanda. Seorang di antara mereka sudah sangat tua. Ternyata, tamu istimewa itu pelaku sejarah yang pernah makan di restoran tersebut pada 1940-an. “Turis itu dulu bekerja di Medan dan sering datang ke restoran ini. Dia masih ingat betul di mana tempat duduk favoritnya,”kenang Dridikus. Menurut turis tersebut, dulu, setiap Sabtu dan Minggu, Tip Top sering di-booking untuk acara-acara pesta orang Belanda.

Sampai soal tempat duduk, Tip Top berusaha mempertahankan keasliannya. Semua kursi yang digunakan restoran itu terbuat dari rotan. Untuk kenyamanan pengunjung, kekuatan kursi rotan-rotan tersebut selalu diperhatikan. Bahkan, Dridikus secara khusus memiliki staf yang bertugas memperbaiki kursi rotan yang rusak.

Keaslian alat masak juga masih dipertahankan karena pengaruhnya pada rasa makanan. Alat masak itu masih berbentuk tungku kayu bakar. Alat khusus untuk membuat kue tersebut berada di bagian belakang restoran. Keaslian tungku itu masih dipertahankan, termasuk keberadaan bata tahan apinya yang sudah gosong.

Menurut Dridikus, cita rasa kue yang dimasak dengan tungku kayu dan gas berbeda. Itu yang membuat dia berupaya mati-matian mempertahankan tungku dengan kayu mahoni tersebut. Sebagian pekerja di restoran itu merupakan generasi lama. “Terutama kokinya, kebanyakan generasi ketiga dari chef yang direkrut pendahulu-pendahulu saya,” katanya.

Dridikus sendiri merupakan generasi ketiga. Dia mendapat mandat untuk meneruskan restoran tersebut dari ayahnya, Freddy Kelana, yang pensiun pada 2007. Sebelumnya bapak dua anak tersebut menekuni bisnis pertanian. “Tugas saya berat. Sebab, saya harus bisa mempertahankan orisinalitas restoran ini,” tandasnya. 
Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36
sumber : http://sumutpos.co

Gunung Gundaling

Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36




Salah satu dari beberapa objek wisata yang melengkapi keindahan kota Berastagi adalah Bukit Gundaling. Bukit yang berjarak sekitar 3 kilometer dari pusat kota Berastagi ini, berada diketinggian sekitar 1.575 meter dari permukaan laut. Bukit tersebut menjadi salah satu tujuan.
Bukit tersebut banyak ditumbuhi oleh Pohon-pohon Pinus dan terlihat indah bila dilihat dari bawah kota Berastagi. Apalagi ketika berada dipuncaknya, sudah pasti pemandangan indah serta udara yang segar langsung menjadi suguhan pertama bagi wisatawan.

Untuk wisatawan yang mengunjungi Berastagi.

Sedikit sejarah mengenai asal muasal nama “Gundaling”. Menurut cerita masyarakat setempat, dahulu seorang tentara Negara asing kehilangan sebuah senjata kesayangannya disebuah bukit. Yang pada akhirnya tentara asing tersebut menuliskan sebuah kalimat “Gun Darling” dipuncak bukit tersebut sebagai bentuk ungkapan kesedihannya. Percaya atau tidak, namun begitulah sedikit cerita yang pada akhirnya bukit tersebut dinamakan “Gundaling”.

Untuk menuju bukit Gundaling dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi, atau kendaraan umum yang ada di Berastagi. Namun yang menjadi kendala adalah minimnya jumlah armada angkutan umum yang menuju puncak bukit tersebut. Nah.. Untuk mensiasati kendala ini, wisatawan dapat mencarter atau menyewa angkutan dari Berastagi.

Sebelum menuju puncak bukit Gundaling, para wisatawan juga dikenakan biaya retribusi yang dipungut oleh pihak pemerintah daerah setempat dipintu loket masuk menuju bukit Gundaling.

Sebaiknya berhati-hati bagi wisatawan yang menggunakan kendaraan pribadi ketika melintasi perbukitan menuju bukit Gundaling tersebut. Jalanan yang penuh dengan tanjakan dan cenderung sempit serta jurang yang terjal akan kita jumpai. Namun pesona keindahan pemandangan alam sudah langsung terlihat disepanjang perjalanan menuju puncak bukit Gundaling.
Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36

Rabu, 20 Juli 2016

Batu Guru Datu Parulas

Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36

Batu Guru Datu Parulas
Batu Guru Datu Parulas
BATU GURU (nama asli Batu Garu) terdapat di dalam Danau Toba yang berjarak sekitar 70 meter dari tepi pantai Danau Toba di Harian Silulu, Dusun III Pangaloan, Kecamatan Nainggolan, Samosir. Batu tersebut terdiri dari 2 batu kecil dan 1 batu besar.
Berdasarkan penuturan masyarakat setempat, dulu ada dua batu besar yang saling beradu. Batu yang satu berada di daratan dan batu yang satu lagi terbang ke Danau Toba. Batu yang terbang ke Danau Toba itulah yang sering berubah arah dan pindah tempat sehingga menimbulkan kekhawatiran masyarakat.

Akhirnya, karena sudah sangat mengganggu, maka untuk menghentikan batu agar diam di tempat, diadakanlah suatu kompetisi berupa adu kesaktian di antara masyarakat. Seseorang bernama Datu Parulas atau Datu Parultop yang, katanya, sanggup melumpuhkan batu itu.

Ia pun mengadakan acara ritual untuk menghentikan batu. Semua persyaratan dan perlengkapan, Datu Parulas yang mengatur. Acara ritual pun berjalan dengan baik. Pada saat acara dilakukan, Datu Parulas melakukan komunikasi dengan batu, tetapi hadirin tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

Setelah upacara selesai, batu diam di tempat hingga sekarang. Karena kemampuannya menghentikan batu agar diam di tempat, batu itu dinamakan Batu Guru Datu Parulas atau Datu Parultop.
sumutpos.co/ Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36

Legenda Batu Gantung (Danau Toba)

Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36


Legenda Batu Gantung (Danau Toba)

Pada jaman dahulu kala di sebuah desa kecil di tepi Danau Toba hiduplah sepasang suami-isteri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni. Selain cantik, Seruni juga tergolong sebagai anak yang rajin karena selalu membantu kedua orang tuanya ketika mereka sedang bekerja di ladang yang hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Suatu hari, Seruni harus bekerja di ladang seorang diri karena kedua orang tuanya sedang ada keperluan di desa tetangga. Ia hanya ditemani oleh anjing peliharaannya yang diberi nama Si Toki. Sesampainya di ladang Seruni hanya duduk termenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba. Sementara anjingnya, Si Toki, ikut duduk disamping sambil menatap wajah majikannya yang tampak seperti sedang menghadapi suatu masalah. Sesekali sang anjing menggonggong untuk mengalihkan perhatian Seruni apabila ada sesuatu yang mencurigakan di sekitar ladang.

Sebenarnya, beberapa hari terakhir Seruni selalu tampak murung. Hal ini disebabkan karena Sang Ayah akan menjodohkannya dengan seorang pemuda yang masih tergolong sepupunya sendiri. Padahal, ia telah menjalin hubungan asmara dengan seorang pemuda di desanya dan telah berjanji pula akan membina rumah tangga. Keadaan ini membuatnya menjadi bingung, tidak tahu harus berbuat apa, dan mulai berputus asa. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, namun di sisi lain ia juga tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya.

Setelah merenung beberapa saat dan tanpa menghasilkan apa-apa, Seruni beranjak bangkit dari tempat ia duduk. Dengan berderai air mata ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya ia sudah sangat berputus asa dan ingin mengakhiri hidupnya dengan cara menceburkan diri ke Danau Toba. Sementara Si Toki yang juga mengikuti majikannya menuju tepi danau hanya bisa menggonggong karena tidak tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam benak Seruni. Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36

Lau Kawar

Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36


Pada zaman dahulu kala tersebutlah dalam sebuah kisah, ada sebuah desa yang sangat subur di daerah Kabupaten Karo. Desa Kawar namanya. Penduduk desa ini umumnya bermata pencaharian sebagai petani. Hasil panen mereka selalu melimpah ruah. Suatu waktu, hasil panen mereka meningkat dua kali lipat dari


tahun sebelumnya. Lumbung-lumbung mereka penuh dengan padi. Bahkan banyak dari mereka yang lumbungnya tidak muat dengan hasil panen. Untuk mensyukuri nikmat Tuhan tersebut, mereka pun bergotong-royong untuk mengadakan selamatan dengan menyelenggarakan upacara adat.
Pada hari pelaksanaan upacara adat tersebut, Desa Kawar tampak ramai dan semarak. Para penduduk mengenakan pakaian yang berwarna-warni serta perhiasan yang indah.

Kaum perempuan pada sibuk memasak berbagai macam masakan untuk dimakan bersama dalam upacara tersebut. Pelaksanaan upacara juga dimeriahkan dengan pagelaran ‘Gendang Guro-Guro Aron’, musik khas masyarakat Karo. Pada pesta yang hanya dilaksanakan setahun sekali itu, seluruh penduduk hadir dalam pesta tersebut, kecuali seorang nenek tua renta yang sedang menderita sakit lumpuh.

Tidak ketinggalan pula anak, menantu maupun cucunya turut hadir dalam acara itu.
Tinggallah nenek tua itu seorang sendiri terbaring di atas pembaringannya. “Ya, Tuhan! Aku ingin sekali menghadiri pesta itu. Tapi, apa dayaku ini. Jangankan berjalan, berdiri pun aku sudah tak sanggup,” ratap si nenek tua dalam hati.
 
Ketika tiba saatnya makan siang, semua penduduk yang hadir dalam pesta tersebut berkumpul untuk menyantap makanan yang telah disiapkan. Di sana tersedia daging panggang lembu, kambing, babi, dan ayam yang masih hangat. Suasana yang sejuk membuat mereka bertambah lahap dalam menikmati berbagai hidangan tersebut. Di tengah-tengah lahapnya mereka makan sekali-kali terdengar tawa, karena di antara mereka ada saja yang membuat lelucon. Rasa gembira yang berlebihan membuat mereka lupa diri, termasuk anak dan menantu si nenek itu. Mereka benar-benar lupa ibu mereka yang sedang terbaring lemas sendirian di rumah.
Sementara itu, si nenek sudah merasa sangat lapar, karena sejak pagi belum ada sedikit pun makanan yang mengisi perutnya. Kini, ia sangat mengharapkan anak atau menantunya ingat dan segera mengantarkan makanan. Namun, setelah ditunggu-tunggu, tak seorang pun yang datang.
“Aduuuh…! Perutku rasanya melilit-lilit. Tapi, kenapa sampai saat ini anak-anakku tidak mengantarkan makanan untukku?” keluh si nenek yang badannya sudah gemetar menahan lapar. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia mencoba mencari makanan di dapur, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa. Rupanya, sang anak sengaja tidak memasak pada hari itu, karena di tempat upacara tersedia banyak makanan.
Akhirnya, si nenek tua terpaksa beringsut-ingsut kembali ke pembaringannya. Ia sangat kecewa, tak terasa air matanya keluar dari kedua kelopak matanya. Ibu tua itu menangisi nasibnya yang malang.
“Ya, Tuhan! Anak-cukuku benar-benar tega membiarkan aku menderita begini. Di sana mereka makan enak-enak sampai kenyang, sedang aku dibiarkan kelaparan. Sungguh kejam mereka!” kata nenek tua itu dalam hati dengan perasaan kecewa.
Beberapa saat kemudian, pesta makan-makan dalam upacara itu telah usai. Rupanya sang anak baru teringat pada ibunya di rumah. Ia kemudian segera menghampiri istrinya.
“Isriku! Apakah kamu sudah mengantar makanan untuk ibu?” tanya sang suami kepada istrinya.
“Belum?” jawab istrinya.
“Kalau begitu, tolong bungkuskan makanan, lalu suruh anak kita menghantarkannya pulang!” perintah sang suami.
“Baiklah, suamiku!‘ jawab sang istri.
Wanita itu pun segera membungkus makanan lalu menyuruh anaknya, “Anakku! Antarkan makanan ini kepada nenek di rumah!” perintah sang ibu.
“Baik, Bu!” jawab anaknya yang langsung berlari sambil membawa makanan itu pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, anak itu segera menyerahkan makanan itu kepada neneknya, lalu berlari kembali ke tempat upacara. Alangkah senangnya hati sang nenek. Pada saat-saat lapar seperti itu, tiba-tiba ada yang membawakan makanan. Dengan perasaan gembira, sang nenek pun segera membuka bungkusan itu. Namun betapa kecewanya ia, ternyata isi bungkusan itu hanyalah sisa-sisa makanan!!.
Beberapa potong tulang sapi dan kambing yang hampir habis dagingnya. “Ya, Tuhan! Apakah mereka sudah menganggapku seperti binatang. Kenapa mereka memberiku sisa-sisa makanan dan tulang-tulang,” gumam si nenek tua dengan perasaan kesal.
Sebetulnya bungkusan itu berisi daging panggang yang masih utuh. Namun, di tengah perjalanan si cucu telah memakan sebagian isi bungkusan itu, sehingga yang tersisa hanyalah tulang-tulang.
Si nenek tua yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya, mengira anak dan menantunya telah tega melakukan hal itu. Maka, dengan perlakuan itu, ia merasa sangat sedih dan terhina.

Air matanya pun tak terbendung lagi. Ia kemudian berdoa kepada Tuhan agar mengutuk anak dan menantunya itu.
“Ya, Tuhan!” Mereka telah berbuat durhaka kepadaku. Berilah mereka pelajaran!” perempuan tua itu memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Baru saja kalimat itu lepas dari mulut si nenek tua, tiba-tiba terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat. Langit pun menjadi mendung, guntur menggelegar bagai memecah langit, dan tak lama kemudian hujan turun dengan lebatnya.
Seluruh penduduk yang semula bersuka-ria, tiba-tiba menjadi panik. Suara jerit tangis meminta tolong pun terdengar dari mana-mana. Namun, mereka sudah tidak bisa menghindar dari keganasan alam yang sungguh mengerikan itu.
Dalam sekejap, desa Kawar yang subur dan makmur tiba-tiba tenggelam. Tak seorang pun penduduknya yang selamat dalam peristiwa itu. Beberapa hari kemudian, desa itu berubah menjadi sebuah kawah besar yang digenangi air. Oleh masyarakat setempat, kawah itu diberi nama ‘Lau Kawar’.
Demikianlah cerita tentang Asal Mula Lau Kawardari daerah Tanah Karo, Sumatera Utara. Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Sedikitnya ada tiga pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu pandai mensyukuri nikmat, menjauhi sifat durhaka kepada orang tua, dan menyia-nyiakan amanat.
Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36

Legenda Putri Bidadari “Si Boru Natumandi Hutabarat”

Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36
Legenda Putri Bidadari “Si Boru Natumandi Hutabarat”
Gadis ini selalu dipingit oleh kedua orangtuanya karena parasnya yang cukup cantik bak seorang bidadari. Di zamannya, gadis ini diyakini yang tercantik diantara gadis-gadis di Silindung (Tarutung). Tak heran, banyak pria yang tergila-gila kepadanya. Namun gadis ini menurut cerita masyarakat dan keturunan keluarganya yang saat ini masih hidup terakhirnya menikah dengan seekor ular.

Berawal saat si boru Natumandi diusianya yang sudah beranjak dewasa, memiliki pekerjaan sehari-hari sebagai seorang petenun ulos. Di sebuah tempat khusus yang disediakan oleh orangtuanya, setiap hari Si boru Natumandi lebih sering menyendiri sambil bertenun, kesendirian itu bukan karena keinginannya untuk menghindar dari gadis-gadis desa seusianya, namun karena memang kedua orangtuanya-lah memingit karena terlalu sayang.

Salah satu warga Desa Hutabarat yakni Lomo Hutabarat (51) yang mengaku satu garis keturunan dengan keluarga Si Boru Natumandi belum lama ini berkata, bahwa dulunya kampung halaman Si boru Natumandi adalah di Dusun Banjar Nahor, Desa Hutabarat, namun dusun itu kemudian pindah sekitar 500 meter dari desa semula dan sekarang diberi nama Dusun Banjar Nauli.

Dikatakan Lomo Hutabarat, bahwa dari 3 anak si Raja Nabarat (Hutabarat) antara lain Sosunggulon, Hapoltahan dan Pohan, Si boru Natumandi dikatakan berasal dari keturunan Hutabarat Pohan. Sementara itu keturunan Si boru Natumandi lainnya yakni L Hutabarat (76) mengisahkan, bahwa dia juga tidak mengetahui persis cerita yang sebenarnya tentang Si boru Natumandi, menurutnya ada beberapa versi tentang legenda gadis cantik ini.

Berikut kisah Siboru Natumandi yang diketahui L Hutabarat. Suatu hari di siang bolong, Si boru Natumandi sibuk bertenun di gubuk khususnya, tiba-tiba seekor ular besar jadi-jadian menghampirinya, konon ular tersebut dikatakan orang sakti bermarga Simangunsong yang datang dari Pulau Samosir. Saat ular itu berusaha menghampiri si boru Natumandi, ia justru melihat sosok ular tersebut adalah seorang pria yang gagah perkasa dan tampan. Saat itulah, sang ular berusaha merayu dan mengajak Si boru Natumandi untuk mau menikah dengannya.

Melihat ketampanan dan gagahnya sang ular jadi-jadian tersebut, Si boru Natumandi akhirnya menerima pinangan tersebut, setelah pinangannya diterima, sang ular kemudian mengajak Si Boru Natumandi untuk pergi menuju ke arah sungai Aek Situmandi dan melewati tempat pemandian sehari-hari Si boru Natumandi di Sungai Aek Hariapan. Dari tempat itu, mereka meninggalkan pesan kepada orangtua Si Boru Natumandi dengan cara menabur sekam padi dari tempat bertenun hingga ke Liang Si boru Natumandi sekarang. Pesan sekaligus tanda itu artinya agar Bapak/Ibu dan semua keluarga mengetahui kalau dia telah pergi dan akan menikah dengan seorang pria, dimana sekam padi tersebut bermakna sampai dimana sekam ini berakhir, disitulah Si Boru Natumandi berada.

Sore harinya, saat kedua orangtuanya pulang dari perladangan, mereka mulai curiga melihat putri semata wayang mereka tidak ada ditempatnya bertenun dan juga tidak ada dirumah, akhirnya kedua orangtuanya memutuskan untuk memberitahukan warga sekitar untuk melakukan pencarian.
Melihat sekam padi yang bertaburan bak sebuah garis pertanda dan tak kunjung ditemukannya Si boru Natumandi hingga keesokan harinya, akhirnya taburan sekam di tepi sungai Aek Situmandi dan berujung disebuah liang/gua yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari kampung halaman Si boru Natumandi diyakini kalau Si boru Natumandi menikah dengan seekor ular.

Namun versi cerita lainnya, ternyata Si boru Natumandi tidak menikah dengan siluman ular yang bermarga Simangunsong, akan tetapi siluman ular tersebut malah meninggalkan si boru Natumandi begitu saja disebuah hamparan tak berpenduduk.

Setelah ditinggalkan begitu saja, Si boru Natumandi terus menerus menangis karena telah tertipu siluman ular tersebut, namun ketika itu seorang pengembala datang dan menghampirinya, penggembala tersebut juga terpikat melihat keindahan tubuh dan kecantikannya, lalu sipengembala mengajaknya agar mau menikah dengannya. Konon dalam versi ini, si pengembala tersebut dikatakan bermarga Sinaga.

Si pengembala kemudian membawa Si boru Natumandi ke Pulau Samosir untuk dinikahi. Berselang beberapa generasi keturunan si boru Natumandi dan si pengembala bermarga Sinaga tersebut di Samosir, keturunannya dikatakan pernah berusaha mencari asal usul si boru Natumandi (Untuk mencari Tulang/pamannya). Usaha pun dimulai dengan menyeberangi Danau Toba dengan sebuah perahu kayu menuju Kota Tarutung dengan membawa sejumlah makanan khas adat batak. Namun sesampainya di Sipoholon (Kota Sebelum Tarutung saat ini) ada keturunan Hutabarat Pohan bermukin disana, yakni dari keturunan Raja Nabolon Donda Raja.

Saat rombongan bertanya tentang Si boru Natumandi, keturunan Raja Nabolon Donda Raja yang tinggal di Sipoholon langsung mengakui kalau merekalah keturunan si boru Natumandi, dan saat itu makanan yang dibawa keturunan si boru Natumandi langsung mereka terima hingga akhirnya acara syukuran pun dilakukan. Padahal keturunan Si boru Natumandi sebenarnya adalah anak kedua dari si Hutabarat Pohan yakni si Raja Nagodang yang sampai saat ini masih ada tinggal di Dusun Banjar Nauli.

Setelah acara syukuran dilakukan, rombongan keturunan Si Boru Natumandi pun berangkat kembali ke Samosir untuk memberitahukan kabar tersebut kepada keluarga. Namun saat menyeberangi Danau Toba perahu yang mereka tumpangi tenggelam hingga semua yang ada dalam perahu meninggal dunia.

Versi selanjutnya, Si boru Natumandi dikatakan menikah dengan resmi, hal ini menurut L Hutabarat, karena sejak dia masih kecil pernah melihat sebuah guci yang terbuat dari kayu tempat mas kawin si boru Natumandi di rumah saudaranya boru Simatupang. Saat itu, boru Simatupang mengatakan kepada L Hutabarat bahwa guci tersebut adalah tempat mas kawin si boru Natumandi.

Guci tersebut konon memiliki sejarah tersendiri, dimana isi guci tersebut hanya dipenuhi kunyit yang suatu saat akan berubah menjadi kepingan/batangan emas, hal ini diberikan dan dipastikan keluarga suami Si boru Natumandi yang memiliki kesaktian, dan selanjutnya kepada kedua orangtuanya diminta untuk tidak membuka guci tersebut sebelum tujuh hari tujuh malam. Akan tetapi, orangtua Si boru Natumandi melanggar permintaan tersebut.

Setelah kedua orangtuanya membuka guci itu, ternyata kunyit tersebut sudah mulai berubah mejadi batangan emas murni. Nasib sial pun dialami kedua orangtua Si boru Natumandi kala itu. Tatkala usia orangtua Si boru Natumandi beranjak ujur, akhirnya mereka menimbun emas tersebut di Dolok Siparini (Masih di Desa Hutabarat) karena takut akan menjadi bahan rebutan bagi adik-adiknya dan keluarganya (Dari pihak laki-laki) suatu saat nanti, sebab banyak diantara keluarganya yang mengetahui tentang kisah guci ini.

Gua Liang Latu Mandi:

Saat ini, lokasi Gua Liang Si Boru Natumandi dijadikan sebagai salah satu objek wisata oleh Pemkab Taput. Banyak orang berkunjung ke tempat ini untuk meminta rejeki atau hal-hal lain. Hal terbukti dimana di lokasi liang Si Boru Natumandi terdapat tumpukan-tumpukan sesajen yakni berupa puntungan-puntungan rokok yang tersusun teratur dan beberapa kelopak daun sirih. Sayangnya, penataan objek wisata ini masih kurang mendapat perhatian dari pihak Pemkab Tapanuli Utara. Sebab di sekitar lokasi ini, masih belum ada penataan objek wisata yang baik, dan masih banyaknya sampah di areal gua ini.

http://suratku01.wordpress.com & sumber lain.

PUSUK BUHIT, GUNUNG LELUHUR BATAK

Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36


                                        PUSUK BUHIT, GUNUNG LELUHUR BATAK
Konon Siboru Deak Parujar turun dari langit. Dia terpaksa meninggalkan kahyangan karena tidak suka dijodohkan dengan Siraja Odap-odap. Padahal mereka berdua sama-sama keturunan dewa. Dengan alat tenun dan benangnya, Siboru Deak Parujar yakin menemukan suatu tempat persembunyian di benua bawah.



Alhasil, dia tetap terpaksa minta bantuan melalui burung-suruhan Sileang-leang Mandi agar Dewata Mulajadi Nabolon berkenan mengirimkan sekepul tanah untuk ditekuk dan dijadikan tempatnya berpijak. Namun sampai beberapa kali kepul tanah itu ditekuk-tekuk, tempat pijakan itu selalu diganggu oleh Naga Padoha Niaji. Raksasa ini sama jelek dan tertariknya dengan Siraja Odap-odap melihat kecantikan Siboru Deak Parujar. Akhirnya Siboru Deak Parujar mengambil siasat dengan makan sirih. Warna sirih Siboru Deak Parujar kemudian semakin menawan Naga Padoha Niaji. Dia mau tangannya diikat asal yang membuat merah bibir itu dapat dibagi kepadanya. Namun setelah kedua tangan berkenan diikat dengan tali pandan, Siboru Deak Parujar tidak memberikan sirih itu sama sekali dan membiarkan Naga Padoha Niaji meronta-ronta sampai lelah.

Bumi yang diciptakan oleh Siboru Deak Parujar terkadang harus diguncang gempa. Gempa itulah hasil perilaku Naga Padoha Niaji. Namun ketika guncangan itu mereda Siboru Deak Parujar mulai merasa kesepian dan mencari teman untuk bercengkerama. Tanpa diduga dan mengejutkan, diapun bertemu dengan Siraja Odap-Odap dan sepakat menjadi suami-istri yang melahirkan pasangan manusia pertama di bumi dengan nama Raja Ihat dan Itam Manisia. Pasangan manusia pertama inilah yang menurunkan Siraja Batak sebagai generasi keenam dan menjadi leluhur genealogis orang Batak.
PUSUK BUHIT, GUNUNG LELUHUR BATAK 
Makam Raja Batak di Pusuk Buhit Samosir
Umumnya orang Batak percaya kalau Siraja Batak diturunkan langsung di Pusuk Buhit, sebuah bekas gunung vulkanis dekat Pangururan (ibukota Kabupaten Samosir). Siraja Batak kemudian membangun perkampungan di salah satu lembah gunung tersebut dengan nama Sianjur Mula-mula Sianjur Mula Tompa yang masih dapat dikunjungi sampai saat ini sebagai model perkampungan pertama. Letak perkampungan itu berada di garis lingkar Pusuk Buhit,. di lembah Sagala dan Limbong Mulana. Ada dua arah jalan daratan menuju Pusuk Buhit. Satu dari arah Tomok (bagian Timur) dan satu lagi dari dataran tinggi Tele.

Sebelum menaiki puncak Pusuk Buhit Anda perlu berkeliling lingkar jalan tersebut sambil menikmati pemandangan ke kawasan hijau lembah, bukit, dan arah Danau Toba. Celah di bagian lingkar Timur Pusuk Buhit juga ada air hangat yang mengandung belerang jika angin pegunungan Bukit Barisan ternyata membuat badan semakin dingin menjelang malam. Setelah itu Anda dapat meneruskan rencana mencapai puncak Pusuk Buhit lewat jalan dan petunjuk dari perkampungan itu. Ketinggian Pusuk Buhit mencapai 1077 meter dari permukaan danau. Semoga dari puncak Pusuk Buhit Anda merasa akan dapat mencapai langit waktu bintang-bintang berkedipan di angkasa sebelum matahari terbit.

Legenda Putri Hijau dan Meriam Puntung

Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36

Legenda Putri Hijau dan Meriam Puntung
Legenda Putri Hijau dan Meriam Puntung
Menurut legenda, dahulu di Kesultanan Deli Lama, sekira 10 km dari Medan, hidup seorang putri cantik bernama Putri Hijau. Kecantikan sang putri ini tersebar sampai telinga Sultan Aceh sampai ke ujung utara Pulau Jawa. Sang pangeran jatuh hati dan ingin melamar sang putri. Sayang, lamarannya ditolak oleh kedua saudara Putri Hijau, yakni Mambang Yazid dan Mambang Khayali. Penolakan itu menimbulkan kemarahan Sultan Aceh.


Maka, lahirlah perang antara Kesultanan Aceh dan Deli. Konon, saat perang itu seorang saudara Putri Hijau menjelma menjadi ular naga dan seorang lagi menjadi sepucuk meriam yang terus menembaki tentara Aceh. Karena menembak terus menerus, meriam itu panas berlebihan sehingga pecah (puntung). Sisa “pecahan” meriam itu hingga saat ini ada di dua tempat, yakni di Istana Maimoon,dan di Desa Sukanalu (Tanah Karo).

Legenda Putri Hijau dan Meriam Puntung
 Tempat Meriam Puntung diletakkan [ samping Istana Maimon ]
Pecahan di Istana Maimoon disimpan di rumah ala Karo yang terdapat di halaman sebelah kanan istana Maimoon. Kenapa dibangun sebuah rumah Karo, itu karena leluhur raja-raja Deli memiliki darah Batak Karo juga selain darah dari India.

Pangeran yang seorang lagi yang telah berubah menjadi seekor ular naga itu, mengundurkan diri melalui satu saluran dan masuk ke dalam Sungai Deli disatu tempat yang berdekatan dengan Jalan Putri Hijau sekarang. Arus sungai membawanya ke Selat Malaka dari tempat ia meneruskan perjalanannya yang terakhir di ujung Jambo Aye dekat Lhokseumawe, Aceh.
Legenda Putri Hijau dan Meriam Puntung



Batu tentang Legenda "Meriam Puntung" yang terletak di samping Meriam diletakkan

Putri Hijau pun ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke Aceh. Ketika kapal sampai di ujung Jambo Aye, Putri Hijau mohon diadakan satu upacara untuknya sebelum peti diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, harus diserahkan padanya sejumlah beras dan beribu-ribu telur.
Legenda Putri Hijau dan Meriam Puntung



Gambar dalam Istana Maimon [ Istana Deli ] dan Meriam Puntung

Permohonan tuan Putri itu dikabulkan.

Tetapi, baru saja upacara dimula, tiba-tiba berhembus angin rebut yang maha dahsyat disusul oleh gelombanggelombang yang sangat tinggi. Dari dalam laut muncul abangnya yang telah menjelma menjadi ular naga itu dengan menggunakan rahangnya yang besar itu, diambilnya peti tempat adiknya dikurung, lalu dibawanya masuk ke dalam laut. Legenda ini sampai sekarang masih terkenal dikalangan orang-orang Deli dan malahan juga dalam masyarakat Melayu di Malaysia.

Wisata Budaya Yang Ada di Nias Selatan

Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36



Rumah adat besar (terletak di bawomataluo)

Wisata budaya juga tidak kalah menariknya untuk kita kunjungi. Desa-desa tradisional di Pulau Nias khususnya di Nias Selatan yang masih menyimpan sejumlah peninggalan budaya dan para penutur sejarah dapat menjadi pilihan utama. Selain menjalankan roda perekonomian, kegiatan pariwisata ini mampu mengembalikan kecintaan akan nilai-nilai tradisi yang diwariskan oleh para leluhur.
Untuk menlakukan perjalan wisata di pulau nias khususnya di Nias Selatan dapat ditempuh dalam 2 jalur yakni laut dan udara.

 Ewali Sawolo (di desa Hilimondregeraya)

Lama penerbangan Medan–Nias setelah berangkat dari Bandara Polonia dan mendarat di Bandara Binaka Gunung Sitoli sekitar 55 menit. Demikian sebaliknya dari Binaka ke Polonia jarak tempuhnya juga 55 menit.


Kalau memilih transportasi laut, bisa dilakukan dengan menumpang KMP dari Sibolga ke Gunung Sitoli lama perjalanan 8-10 jam. Kalau tujuan ke Nias Selatan berarti harus menempuh perjalanan lagi lewat perjalanan darat dengan jarak tempuh 2 sampai 3 jam.
Keindahan budaya yang terdapat di Nias Selatan sangat banyak dan dapat dikatakan kebudayaan yang terdapat di Nias Selatan tak terhitung oleh jari- jari tangan, ada beberapa budaya wisata yang terdapat di nias selatan yakni :

Tari perang 

Huta Siallagan Dan Batu Kursi (Persidangan)

Info : Rental Rudi Medan - Rental Mobil Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36


LEGENDA BATU KURSI PERSIDANGAN SIALLAGAN

budaya-indonesia.org
Menurut penuturan para orangtua, Huta atau kampung adalah sebuah kelompok rumah yang berdiri di atas tanah satu kawasan yang dihuni oleh beberapa keluarga yang terikat dalam satu kerabat. Dalam masyarakat Batak, dimana marga merupakan sebuah identitas yang akan menjelaskan asal usul kekerabatannya, maka Huta atau kampung juga dibangun sebagai identitas tempat tinggal yang selanjutnya huta akan dinamai sebagai huta marga.

Demikian juga halnya marga Siallagan (turunan Raja Naiambaton garis keturunan dari Raja Isumbaon anak ke dua si Raja Batak) membangun sebuah huta/perkampungan yang dinamakan Huta Siallagan yang dibangun oleh keluarga marga Siallagan yang dikuasai oleh seorang pemimpin yaitu Raja Huta, dalam hal ini Raja Siallagan.

Huta Siallagan, berada di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Pulau Samosir, Kabupaten Samosir, terletak 150 m dari pinggiran Danau Toba, Pulau Samosir bagian Timur, berjarak 3 km dari Tuktuksiadong (pusat perhotelan) atau 5 km dari huta/kampung Tomok (dermaga Ferry) sementara melalui danau berjarak 12 km dari kota Parapat. Luas huta Siallagan diperkirakan 2.400 m persegi, dengan sebuah pintu gerbang masuk dari sebelah Barat Daya dan pintu keluar dari arah Timur. Huta ini dikelilingi dengan tembok batu alam dengan ketinggian 1,5 – 2,00 meteryang disusun dengan rapi. Pada masa lampau sebagaimana disebutkan tadi, tembok dengan lebar 1-2 meter ini ditanami dengan bambu untuk menjaga huta dari gangguan binatang buas maupun penjahat. Dari pintu masuk terdapat patung batu besar yang diyakini sebagai penjaga dan mengusir roh jahat yang ingin masuk kedalam huta, patung ini disebut Pangulubalang. Dimasa lalu orang-orang yang tinggal di huta Siallagan termasuk Raja Siallagan masih menganut agama asli Batak (agama Parmalim)
RUMAH ADAT BATAK
Didalam huta Siallagan terdapat rumah adat tradisional Batak sebanyak 8 buah. Biasanya satu rumah dihuni lebih dari satu sampai empat keluarga (suami isteri dan anak). Rumah-rumah adat di huta ini masih bentuk asli dan diperkirakan berumur ratusan tahun, sesuai dengan perkembangan waktu sebagian bahannya misalnya dinding, tiang dan atap telah diganti/diperbaharui karena rumah adat asli dengan bahan bangunan dinding/lantai dari kayu tanpa paku dan atapnya bahan ijuk.
medan.panduanwisata.com
Bangunan rumah Batak berdiri diatas tiang-tiang yang kokoh sehingga terdapat ruangan bawah yang disebut “bara” biasanya digunakan untuk kandang hewan piaraan. Bara ini dikelilingi oleh tiang-tiang penyangga rumah yang satu sama lain dihubungkan dengan “ransang” yakni papan kayu tanpa paku Bagian tengah rumah Batak tidak mempunyai kamar, ruangannya terbuka namun penggunaan lantai ruangan memiliki aturan antara lain disebut ruma soding, ruma suhut dsb. Bagian atas tidak mempunyai plafon, hanya pada bagian depan dan belakang atas terdapat ruangan yang disebut “Parapara”.

Parapara di bagian depan biasanya dipergunakan untuk menyimpan benda-benda adat atau juga tempat alat musik tradisional disimpan, konon juga digunakan sebagai tempat yang aman untuk mengintip kondisi yang terjadi diluar rumah dalam huta. Para-para bagian belakang dipakai sebagai tempat menyimpan peralatan dapur dan bahan makanan persediaan. Bagian atap rumah Batak bebentuk kerucut dengan ujung bagian belakang lebih tinggi menjulang ke atas daripada ujung bagian depan (lihat gambar grafis rumah adat Batak)
www.tabloidgabe.com
Jika diperhatikan dari luar, bagian depan rumah adat Batak dihiasi ukiran khas Batak disebut Gorga yang terdiri dari 3 warna (putih, merah dan hitam) yang memiliki arti/makna tersendiri. Juga terdapat berbagai ornamen benda-benda khas antara lain seperti ornamen yang dinamakan Gaja Dompak, Singa-singa, Pane Nabolon dan Dila Paung. Menurut para orangtua, ornamen ini diyakini berfungsi untuk menangkal roh jahat yang mau masuk kedalam rumah tersebut dan menjaga penghuni rumah dari gangguan ilmu gaib atau yang menimbulkan hal buruk terhadap masyarakat di huta Siallagan.

Selain itu juga terdapat ornamen lambang payudara/buah dada wanita (Bahasa Batak : bagot atau panusuan atau situngkol bulusan), sebanyak 4 buah. Ornamen ini melambangkan kesuburan dan kekayaan, biasanya ditempatkan pada rumah Raja atau rumah orang dermawan, yang suka memberi bantuan bagi mereka yang kekurangan. (bandingkan : Pengertian Raja bagi masyarakat Batak).

Masuk ke dalam rumah adat Batak kita harus melalui tangga yang ditempatkan pada bagian tengah dan kita harus berhati-hati dan merunduk agar tidak terantuk pada kayu palang; maknanya bahwa kita sebagai tamu harus sopan, santun dan hormat mendatangi pemilik rumah. Tangga ini biasanya terdiri dari 3, 5 atau 7 anak tangga (dahulu, hitungan ganjil bagi rumah orang yang dihormati atau rumah Raja, sedang untuk rumah pembantu atau orang yang miskin).

Didalam rumah (ruangan terbuka tanpa sekat-kamar) terdapat benda-benda peralatan rumah tangga sehari-hari seperti :

- Tataring (tungku) dan hudon tano (periuk tanah) ditempatkan ditengah ruangan sebagai tempat memasak makanan dan minuman bagi penghuni rumah atau tamu.

- Hassung (terbuat dari bambu yang panjang dan besar) digunakan untuk menampung dan mengangkat air dari mata air.

- Sapa (piring besar) tersebut dari kayu sebagai tempat makanan dihindangkan bagi seluruh anggota keluarga.

- Solub (terbuat dari bambu) sebagai tempat menyimpan makanan yang sudah dimasak, atau juga menjadi alat takaran beras.

- Peralatan dapur lainnya biasanya terdiri dari kayu dan batu seperti sendok nasi, lesung kecil dan tatakan.

Selain benda-benda tersebut, terdapat sebuah benda berbentuk empat persegi (seperti tampi) yang dibuat tergantung dibagian belakang atas ruangan, dahulu berfungsi sebagai tempat sesajen/ persembahan memohon berkat dan perlindungan dari roh nenek moyang dan Yang Maha Kuasa (mulajadi na bolon).

Diluar rumah/halaman, biasanya terdapat kursi-kursi batu tempat duduk, dan juga lesung (losung) yang digunakan untuk menumbuk padi atau beras untuk dimakan atau dijadikan tepung (itak) bahan membuat makanan tradisi Batak untuk acara adat atau sesajen, makanan ini yang disebut Itak Puti, Itak Gurgur dan Nahinopingan/ Nahinindatni andalu (bahan terdiri dari tepung beras, gula aren, kelapa dan garam secukupnya).

HAU HABONARAN
Hau (kayu) yang tumbuh di tengah huta Siallagan disebut Hau Habonaran (pohon kebenaran, pohon keadilan) yang pada awalnya disebut sebagai Hau Hangoluan (Pohon kehidupan). Disebut demikian karena pohon tersebut ditanam sebelum membangun Huta, ketika itu para tetua masyarakat berdoa (martonggo) bila kelak pohon yang ditanam tumbuh subur, itu berarti ada kehidupan ditempat tersebut yang akan dijadikan huta/perkampungan. Dahulu, pada hari-hari tertentu, Raja dan para tetua huta memberikan persembahan/sesajen di pohon tersebut yang dipercayai bahwa akan mendapatkan berkah yang mereka inginkan.

kamanawaeman.blogspot.com

Kini Hau Habonaran masih berdiri kokoh dengan umur diperkirakan berumur ratusan tahun, namun keluarga Raja selalu memeliharanya sesuai dengan kondisi lingkungan (tidak ditebang)

BATU KURSI (PERSIDANGAN)
Mestinya dipahami bahwa suku Batak (5 sub etnis) adalah etnis bangsa Indonesia yang memiliki ciri tersendiri bahkan dianggap sebagai suku bangsa yang spesifik di dunia karena memiliki daerah asal-usul yang jelas, bahasa dan aksara, struktur kekerabatan, adat-istiadat dan hukum serta gaya/pola kehidupan sosial bahkan agama tersendiri (dahulu agama Mulajadi atau mungkin Parmalim). Ini berarti orang-orang Batak sekarang tidak menganut hanya satu agama tetapi agama-agama yang ada di Indonesia).

Akan halnya adat-istiadat dan hukum (adat) Batak merupakan peninggalan nenek moyang yang diwariskan secara turun temurun untuk mengatur atau menata kehidupan dan pergaulan orang Batak didalam (bona pasogit) atau diluar daerah asalnya (parserahan).

Batu kursi (persidangan dan eksekusi) adalah salah satu bukti peninggalan sejarah terdapatnya hukum Batak di huta Siallagan. Batu kursi di huta Siallagan ditempatkan pada dua lokasi sesuai dengan aturan dan fungsinya yang berbeda.
daysofbatak.wordpress.com
Kelompok Batu kursi pertama, dibawah pohon kayu Habonaran, ditempatkan di tengah huta Siallagan yang dipergunakan sebagai tempat rapat-pertemuan Raja dan pengetua adat untuk membicarakan berbagai peristiwa kehidupan warga di huta Siallagan dan sekitarnya, juga menjadi tempat persidangan atau tempat mengadili sebuah perkara kejahatan.

Menurut penuturan para orangtua, bahwa batu kursi pertama ini terdiri dari Kursi Raja dan permaisuri, Kursi Para Tetua Adat, Kursi Raja dari Huta/kampung Tetangga dan Para undangan, juga Datu/Pemilik Ilmu Kebathinan. Ditempat inilah diputuskan dan ditetapkan peraturan “pemerintahan, kemasyarakatan” dan hukum yang tegas bagi yang melanggarnya. Artinya Raja Huta Siallagan tidaklah melakukan sesuatu dengan dasar “kekuasaan” semata, tetapi dilakukan secara musyawarah, mendengarkan pendapat dan usul serta pertimbangan dari para tetua adat yang diundang hadir untuk kemudian menetapkan keputusan secara jujur, adil dan bijaksana.

Konon, Batu Kursi pertama ini selain sosialisasi peraturan hukum adat-istiadat, juga dipergunakan untuk menetapkan hukuman bagi orang-orang yang melakukan tindakan kriminal (pembunuhan, pencurian), pelecehan/pemerkosaan dan sebagainya. Setelah melalui proses investigasi, interogasi kepada terdakwa, maka Para Pengetua Adat dan Raja dari huta tetangga memberikan usul jenis hukuman yang harus diiberikan kepada terdakwa dan oleh Raja Siallagan (dikenal sebagai Raja yang adil dan tegas) ditetapkan menurut peraturan “kerajaan” Siallagan yakni Hukuman Denda, Hukum Penjara (dihukum pasung) dan Hukum Mati (hukum pancung/dibunuh). Hukum denda biasanya bagi seseorang yang melakukan kesalahan ; Hukum Penjara ditetapkan bagi seseorang yang melakukan kejahatan ringan seperti pencuri, berkelahi, memfitnah; sedang Hukum Mati (dipancung) merupakan hukuman yang ditetapkan bagi seseorang yang berbuat kejahatan berat seperti Pembunuh, Pemerkosa.

Demikianlah halnya, seseorang yang didakwa melakukan kejahatan berat melalui persidangan Raja-raja ditetapkan hukuman mati (hukuman pancung), maka Raja Siallagan terlebih dahulu menanyakan kepada Datu tentang hari yang tepat dalam pelaksanaan eksekusi mati, pencarian hari eksekusi ini dilakukan melalui Parhalaan (kalender Batak). Pada hari yang ditentukan Datu dan disetujui Raja, terdakwa/penjahat berat yang telah ditahan dan tidak diberi makan kemudian dibawah ke tempat eksekusi hukuman (pancung) yakni ke kelompok batu kursi kedua, diluar kawasan batu kursi pertama.

Kelompok Batu Kursi kedua, ini terletak dibagian luar dari huta Siallagan namun masih sekitar huta. Disini terdapat juga Kursi untuk Raja, para Penasehat Raja dan tokoh adat, termasuk masyarakat yang ingin menyaksikan pelaksanaan hukuman mati. Penjahat dibawa oleh hulubalang raja ke tempat eksekusi dengan mata tertutup menggunakan Ulos, Raja dan para penasehat raja serta masyarakat telah berkumpul, kemudian penjahat ditempatkan diatas meja batu besar, bajunya ditanggalkan.

Sebelum eksekusi dilaksanakan, atas perintah Raja, Eksekutor yang juga Datu (memiliki ilmu gaib) menanyakan keinginan permintaan terakhir dari sang penjahat. Bila tidak ada lagi, selanjutnya eksekutor menanggalkan semua pakaian dari tubuh penjahat dan mengikat tangannya ke belakang. Menurut yang empunya cerita, ditanggalkannya pakaian penjahat adalah untuk mengetahui dan menghilangkan bilamana kekuatan gaib yang dimiliki oleh penjahat. Kemudian tubuh penjahat disayat dengan pisau tajam, sampai darah keluar dari tubuhnya. Bila sang penjahat yang disayat tidak juga mengeluarkan darah, maka penjahat dibuat telanjang dan diletakkan diatas meja batu, kemudian disayat-sayat kembali bahkan air jeruk purut diteteskan kedalam luka sayatan, sehingga eksekutor yakin sang penjahat tidak lagi memiliki kekuatan gaib di tubuhnya. Eksekutor harus memastikan bahwa sang penjahat sungguh-sungguh tidak memiliki kekuatan apapun, jauh dari segala sesuatu yang berbau kekuatan magis.

Selanjutnya tubuh sang penjahat diangkat dan diletakkan ke atas batu pancungan telungkup dengan posisi leher persis berada disisi batu, sehingga kelak bila dilakukan eksekusi, sekali tebas kepala terpisah dari tubuhnya. Selanjutnya Sang Datu, dengan membacakan mantra-mantra kemudian mengambil pedang yang sudah tersedia, dengan sekali tebas, kepala penjahat dipenggal hingga terpisah dari tubuhnya. Untuk mengetahui apakah benar penjahat sudah mati, sang Datu kemudian menancapkan kayu“Tunggal Panaluan” ke jantung penjahat, lalu jantung dan hati dikeluarkan dari tubuh penjahat dan darahnya ditampung dengan cawan. Hati dan jantung penjahat dicincang dan kemudian dimakan oleh Raja dan semua yang hadir, darahnya juga diminum bersama.

Masih menurut cerita, Bagian Kepala dibungkus dan dikubur ditempat yang jauh dari huta Siallagan, biasanya tempat yang tidak pernah disentuh oleh manusia, sementara bagian badannya dibuang ke danau. Menurut kepercayaan mereka dahulu, bahwa memakan bagian tubuh penjahat adalah menambah kekuatan dari mereka yang memakannya. Percaya atau tidak, ini hanya cerita yang terjadi masa dulu, hingga diawal abad ke 19. Dalam suasana seperti itu Sang Raja memerintahkan agar masyarakat tidak boleh menyentuh air danau selama satu sampai dua minggu, karena air masih najis dan berisi setan.

Beberapa waktu kemudian zaman kegelapan berakhir, hingga masuknya agama Kristen ke tanah Batak oleh Pendeta Jerman Dr.I.L.Nommensen, penerapan hukuman pancung seperti diceritakan tidak lagi dilaksanakan bahkan sudah dihapuskan termasuk ilmu-ilmu gaib/kebathinan semakin ditinggalkan, karena masyarakat sudah memeluk Agama, dan bila terjadi kejahatan dan kriminal, selain mempergunakan hukum adat juga dipergunakan hukum Negara (hukum pidana, hukum perdata)

Bilamana cerita ini dimasa kini kemudian dianggap sebagai sebuah cerita yang menimbulkan opini bahwa orang Batak adalah kanibalisme, boleh saja demikian karena zaman dahulu ratusan tahun yang lalu kehidupan primitif Batak sudah pasti sangat berbeda dengan Batak zaman modern sekarang ini. Namun cerita itu tidak perlu ditutup-tutupi agar kedepan dapat ditarik hikmah, makna dan arti positif masa lalu. Sejarah, adalah masa lalu yang dijadikan cermin bagi masa depan.

Sebagai tambahan informasi, bahwa dibagian utara Huta Siallagan, yakni di Parhapuran terdapat juga batu kursi yang dipergunakan untuk tempat pertemuan dari turunan marga Siallagan yang lain. Lokasi ini sudah direhabilitasi oleh Pemkab Samosir dan menjadi salah satu objek kunjungan wisatawan.

Selain objek budaya, huta Siallagan berada pada lintasan jalan antara huta Ambarita menuju Tuktuksiadong, dan bila melalui kapal penumpang umum melalui pelabuhan/dermaga kapal dan gapura-pintu gerbang yang telah dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Samosir sebagai tambahan fasilitas akses menuju huta Siallagan Pulau Samosir.
sumber : scalatoba.blogspot.com & lainnya

Minggu, 10 Juli 2016

Bukit Lawang

Di kawasan Bukit Lawang ini terdapat Taman Nasional Gunung Leuser yang terkenal itu.


Bukit Lawang
Bukit Lawang
Objek wisata ini terletak di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Pemandangan pepohonan hijau yang lebat dan udara sejuk menjadi ciri khas objek wisata ini. Selain itu pengunjung bisa menjumpai Orang Utan yang berada di kawasan ini.
Bukit Lawang Atau dikenal sebagai Tempat Wisata Alam Bukit Lawang Terletak di kabupaten langkat provinsi Sumatera utara terletak sekitar 68 kilometer dari sebelah barat laut kota binjai dan sekitar 80 km dari sekitar barat laut kota medan. Bukit Lawang sendiri masih bagian dari gunung leuser, dimana gunung ini merupakan daerah konversasi mawas.

Bahorok bukit lawang, Sungai Bahorok Salah satu objek yang paling terkenal dari Bukit Lawang ini adalah sejuknya Sungai Bahorok. dimana terdapat air terjun di dalam hutan merupakan air terjun yang langsung dan masih asli dari alam. Selain itu menikmati sejuknya Sungai bahorok ini, para pengunjung juga bisa menikmati keindahan alam yang menghijau dan membentang dalam bentuk perbukitan. dan kebanyakan wisatawan domestik melakukan kegiatan arum jeram menggunakan Ban dalam Mobil atau biasa di sebut TUBE RAFTING .

Bukit Lawang
Bukit Lawang
 
Di tempat wisata Bukit Lawang atau biasa disebut daerah bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser ini, pengunjung bisa dengan sangat leluasa melihat kehidupan para orangutan dan satwa lain yang hidup tenang di daerah ini.

Pengunjung-pengunjung yang datang kedaerah ini di mayoritasi oleh masyarakat sumatera sekitarnya, memang sudah sangat banyak pengunjung yang datang dari manca negara, dan pada umumnya mereka datang untuk menikmati sungai bahorok dan melihat orangutans dan menjelajahi hutan, karena orangutans sumatera sudah menjadi ikon dari tempat wisata ini sendiri yang telah terkenal sampai ke mancanegara.

Wisatawan yang datang ke tempat ini, lebih banyak yang memilih menginap. Didaerah wisata ini tersedia fasilitas penginapan, seperti hotel, cottage, dan lainnya. untuk kebutuhan makanan juga terdapat beberapa rumah makan atau restoran. Cinderamata dari bukit lawang ini sendiri juga sangat banyak di kenal di luar daerah karena ke unikan dan citra alam yang masih alami dari Bukit Lawang.