Info : Rental Rudi Medan , Phone : 08126323021 - 082277093636 / BB : 25DAAB36
 |
| Air Panas Sibanggor |
Sibanggor merupakan sebuah tempat yang menyenangkan yang
terletak di kaki Gunung Sorik Marapi. Sibanggor terdiri atas tiga desa :
Sibanggor Jae, Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu. Seluruh daerah
Sibanggor penuh dengan air panas kecil. Lokasi yang paling nyaman
terletak di pinggir jalan antara Sibanggor Tonga dan Jae.
Mandailingnatal.
Air panas disini mangandung
belerang. Ba-nyak pengun-jung dari dae-rah lain da-tang khusus untuk
mengobati berbagai jenis penyakit kulit. Di lokasi ini juga terdapat
beberapa kamar mandi dimana pengunjung dapat menikmati kehangatan air
belerang dan juga ada beberapa tempat khusus untuk merebus telur.
Disamping itu, disini juga dapat menikmati pemandangan dan rumah-rumah
penduduk yang masih sangat tradisional.
Tempat pemandian ini
didirikan dengan 2 pemandian berdampingan. Kolam pertama cukup panas
dimana sumber airnya langsung dari pusat air panas dan kolam kedua yang
suhu airnya hangat bersumber dari aliran kolam pertama.
Ditempat
ini juga disediakan beberapa kamar ganti, tak jauh dari tempat ini juga
terdapat aliran Sungai Nilas. Aliran sungai ini langsung berbatasan
dengan tembok-tembok perbukitan. Di sungai ini juga terdapat beberapa
sumber air panas.
Air panas sungai itu memiliki kadar yang dapat
membuat batu-batuan di sekitarnya berubah warna ada yang menjadi merah
dan ada yang berubah menjadi warna kuning, air panas yang mengalir
inilah yang masuk ke aliran sungai sehingga membuat Sungai Aek Tilas
menjadi hangat.
Air sungai yang mengalir deras dengan bebatuan yang di tengahnya
terdapat lokasi yang menjadi lokasi menarik untuk aktivitas wisata
sungai. Banyak sekali pengunjung yang datang khusus untuk mengobati
berbagai jenis penyakit kulit.
Di tempat ini juga disediakan
tempat khusus untuk merebus telur. Selain itu pengunjunga juga dapat
melihat pemandangan dan rumah-rumah penduduk desa yang masih sangat
tradisional.
Cerita RakyatSampuraga
Salah satu cerita yang diwariskan secara turun temurun di Mandailing adalah cerita ataupun “Legenda Sampuraga”.
Dahulu,
Sampuraga dan ibunya tinggal di tempat daerah Padang Bolak. Keadaan
sangat miskin di tempat ini, sehingga menyebabkan Sampuraga berkeinginan
untuk merubah kehidupannya. Dia tidak ingin pekerjaannya hanya mencari
kayu bakar setiap harinya. Ia ingin menjadi pemuda yang membayangkan
masa depan yang cerah.
Kemudian ia berniat untuk merantau dan
mohon izin pada ibunya yang sudah sangat tua. Sampuraga meninggalkan
orang tuanya dengan linangan air mata. Dia berjanji akan membantu
keadaan ibunya apabila telah berhasil kelak. Ibunya kelihatan begitu
sedih, karena Sampuraga adalah putera satu-satunya yang dimilikinya. Ia
melepas kepergian putranya dengan tetesan air mata.
Sampuraga
terus melanjutkan petualangannya dengan kelelahan yang terus menerus.
Setelah beberapa lama sampailah ia ke Pidelhi (Pidolo sekarang), dan
berdiam disana untuk beberapa waktu. Kemudian dilanjutkannya
perjalanannya ke Desa Sirambas. Pada waktu itu Sirambas dipimpin oleh
seorang raja yang bernama Silanjang (Kerajaan Silancang). Ditempat ini
Sampuraga bekerja keras yang merupakan kebiasannya sejak masa
kanak-kanak. Rajapun tertarik dan ingin menjodohkannya pada putrinya.
Tentu
saja Sampuraga sangat senang setelah mengetahui hal ini. Raja bermaksud
membuat pesta besar, semua raja-raja di sekitar Mandailing diundang.
Sementara ibunya sangat rindu pada putranya. Sampuraga telah tumbuh
menjadi dewasa dengan begitu banyak perubahan. Dia tidak lagi seorang
yang miskin seperti dahulu. Dia adalah lelaki yang kaya raya dan menjadi
seorang raja.
Ketika upacara perkawinan tiba, ibunya dating ke
pesta itu berharap dapat berjumpa denganputranya secepatnya. Tetapi apa
yang terjadi ??? Sampuraga tidak mengakui kalau itu adalah ibunya. Dia
malu kepada istrinya karena ibunya kelihatan sangat tua renta dan
miskin, dia menyuruh ibunya untuk pergi dari tempat itu.
Sampuraga
berkata “Hei orang tua, kamu bukan ibu kandungku, ibuku telah lama
meninggal dunia. Pergi…!!!” Sampuraga tidak peduli dengan kesedihan dan
penderitaan ibunya.
Ibunya pun pergi sambil memohon dan berdo’a
kepada Allah SWT, Sampuraga dikutuk oleh ibunya dan kedurhakaannya tidak
lain adalah disebabkan oleh kekayannya, ibunya memeras air susunya,
Sampuraga lupa bahwa ia pernah disusui oleh ibunya.
Atas kehendak
Allah SWT, datanglah badai tiba-tiba disekitar tempat istana menjadi
banjir dan dihempas oleh air. Sampuraga tenggelam dan tempat itu menjadi
Sumur Air Panas. Itulah yang dikenal dengan Air Panas Sampuraga di Desa
Sirambas.